Langsung ke konten utama

Hujan dan Rindu

hujan menyelamatkan rindu
yang tak pernah kau kenali
rasa sayang harus kembali ke benak gerimis
sebelum dingin memusuhi rasa sakit

ketika duka coba ditulis
masa depan tiba-tiba pecah
seperti kenangan yang mengiris-iris
seperti luka yang tak mungkin sembuh oleh tangis

hujan mempertegas sunyi
sehingga rindu harus kembali dimaknai
setelah kata-kata mandul
dan segenap bahasa menjadi tumpul

kerinduan yang lumpuh
dan kehangatan semu
akhirnya harus luruh. mengalir
dalam bening sungai bernama puisi
hanyut dalam hening kepak kupu-kupu yang terus bertasbih

hujan mengantarkan rindu
pulang ke makna terdalam
tentang cinta kepada sirah paling harum
tentang kisah yang membasahi semesta
lewat embun pada dedaun

hujan dan rindu saling menguatkan
seperti laut yang membutuhkan jarak
agar ia bisa disebut samudera




Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

From Ntobo to the World: How a Village Woman Wove Hope into Every Thread

When the sun begins to dip behind the hills of Bima, the click-clack of wooden looms fills the air. Mothers sit side by side, chatting as their hands move in perfect rhythm. Children run across the dusty yard, clutching rolls of colorful thread like tiny treasures. For many in Ntobo—a small village in West Nusa Tenggara—this scene is no longer a picture of survival but of pride. The soft hum of weaving that once echoed through their homes has become the heartbeat of a new economy. The bright natural dyes give the fabric a charm of its own (Photo: efenerr)   At the center of this quiet revolution stands Yuyun Ahdiyanti, a mother of three whose determination turned a fading tradition into a source of strength and recognition. Weaving the threads of change Five years ago, Ntobo was struggling. Generations of weavers had poured their hearts into Tembe Nggoli, the handwoven sarong unique to Bima, but their art barely paid the bills. Middlemen bought their fabrics cheaply, ...

Hana Maulida dan Gerakan Kakak Aman; Bersama Menyembuhkan Dampak Luka Trauma

Sebuah desa sunyi di Lampung Tengah menjadi saksi runtuhnya kehormatan seorang siswi SMK berusia 15 tahun. Saat ia seharusnya mulai menikmati dunia remajanya dengan ceria, ia justru mengalami sebuah kepahitan hidup. Selama berbulan-bulan, ia memendam luka yang tak tampak. Luka itu ditorehkan oleh dua orang yang seharusnya menjadi pelindungnya: ayah kandung dan paman tirinya.  Namun, ia akhirnya menemukan kekuatan di tengah ketakutan yang menjeratnya. Ketika keberanian kecil itu tumbuh, ia melangkah ke ruang guru. Dengan penuh harap, ia menatap gurunya dengan mata yang basah dan mengucap kebenaran pahit yang terlalu berat untuk usia semuda itu.  Ilustrasi rudapaksa (Sumber: klikdokter.com) Dari pengakuan lirihnya, terbongkarlah kisah kelam rudapaksa yang bermula di tanggal 5 Juli 2024. Hari itu, alih-alih menenangkan dan melindungi, tetapi sang ayah justru mengulang kekerasan yang telah dilakukan pamannya, dengan dalih bahwa putrinya telah “rusak”. Pada bulan yang sama, peristi...

Mata Kering? Insto Dry Eyes Solusinya Tanpa Pergi ke Dokter

Pernah merasa mata sepet, perih, atau lelah saat bekerja atau menatap layar gadget terlalu lama? Sensasi seperti ada yang mengganjal saat berkedip, pandangan buram, hingga rasa tidak nyaman lainnya bisa jadi tanda mata kering. Kondisi ini makin umum terjadi di era digital sekarang, di mana mata kita terus bekerja ekstra setiap hari. Insto Dry Eyes, solusi mata kering tanpa pergi ke dokter Kabar baiknya, Anda tidak selalu perlu ke dokter untuk mengatasi gangguan ini. Banyak solusi praktis yang bisa Anda lakukan sendiri di rumah, salah satunya dengan menggunakan tetes mata seperti  INSTO DRY EYES . Perawatan cepat dan tepat akan membantu meringankan rasa tidak nyaman akibat mata kering secara efektif. Kenapa Mata Terasa Kering? Kenali Gejalanya Kebanyakan orang tidak sadar saat gangguan mata kering sedang terjadi. Padahal, tubuh sudah memberi sinyal yang jelas. 1.      Gejala yang sering diabaikan Rasa terbakar atau panas di mata Sensasi seperti berpa...